Langsung ke konten utama

Novel Banjir The Series

Novel Banjir The Series

Judul:
Terjebak Kenangan Yaang di Banjir Samarendah

---Wali Kota di Prancis---

"Samarendah Banjir 3 Hari, Safari Yaang Menghilang"

Demikian judul headline berita sebuah koran swasta di Kota Samarendah, Provinsi Kalimantan Timur, setelah momen Idulfitri, pada 12 Juni 2019. Isi beritanya menghabisi Wali Kota Samarendah yang bernama Safari Yaang itu.

"Pak Yaang Ternyata Liburan di Prancis, Banjir Samarendah Makin Tinggi"

Kalimat di atas menjadi judul utama di koran Kaltim Bos itu lagi pada esoknya. Betapa pusing kepala para pejabat di Dinas Pekerjaan Umum (PU) Samarendah kala membaca berita itu. Takut dikira tidak bekerja, karena media memberitakan menyerang wali kota, tanpa konfirmasi ke kepala Dinas PU, Karismo.

"Cepat cari wartawan bodoh itu," perintah Karismo kepada stafnya, selepas membaca koran edisi 13 Juni 2019.

"Siap pak. Saya segera datangkan wartawan itu," jawabku dari depan pintu di ruangan kepala dinas. Jarak kami agak berjauhan, karena aku baru saja mengantarkan sebuah berkas proyek untuk ditandatangani Pak Karismo.

Ya, namaku Suardi. Lengkapnya Suardi Geofani, usia 22 tahun. Aku akrab disapa Suar ketika berada di tempat bekerjaku di Kantor Dinas PU Samarendah. Inilah kisahku. Aku akan mencari wartawan bodoh itu.

Segera aku mengambil ponsel dari saku celana. Smartphone merk Vivu yang baru saja dibelikan kakekku sepekan lalu ini akan kugunakan untuk menelepon seseorang.

*tak tik tuk*
mengotak-atik ponsel Vivu berwarna biru langit

Aku tahu, ini wartawan yang dimaksud pasti orang bernama Yoke itu. Sebab sudah kulihat dia kemarin di Balai Kota datang untuk liputan, mencari kepala dinasku. Tapi dia disuruh pulang oleh sekuriti karena alasan pak kepala dinas sedang tidak ada di kantor.

Nampaknya, aku harus segera menghubungi sahabat lamaku di bangku SMA dulu, si Oktov. Dia tahu banyak. Dia juga bekerja di perusahaan media online, berteman akrab dengan banyak wartawan di Samarendah.

*Tuuut... Tuuut... Tuuut... *
~Panggilan telepon ke Oktov~

"Halo, dengan siapa?"

"Iya, halo Oktov. Ini aku Suar"

"Oh, ikam kah, kenapa wal?“
"(Oh, kamu ya, kenapa teman?)"

"Kada papa. Handak betakun aja. Ikam tahu kah wartawan Kaltim Bos yang awaknya hendep tu? Bekacamata habang, betahilalat jua di higa muntung"
"(Gak papa. Mau tanya aja. Kamu tau gak wartawan Kaltim Bos yang tubuhnya pendek itu? Berkacamata merah, punya tahi lalat di sebelah mulutnya)"

“Oh.. Itu pasti Yoke"

"Kiyau pang inya. Suruh datang ke Dinas PU. Bosku sarik banar ini gara-gara berita ulahannya. Bungul banar kanak tu"
"(Panggilkan dia ya. Suruh datang ke Dinas PU. Kepala Dinas sangat marah gara-gara berita yang dibuatnya. Bodoh sekali orang itu)"

Oktov sebagai kawan yang baik, langsung mengiyakan permintaanku. Dia tahu bahwa aku sedang berada di bawah tekanan atasan.

---Dasar Wartawan Koplak---

Yoke datang ke Kantor Dinas PU Samarendah, atas permintaan Oktov. Masih pagi pukul 08.30 Wita. Dia datang dengan mengenakan pakaian kemeja putih. Wajahnya tampak kelelahan, bernafas terengah-engah.

"Hei, aku datang ke sini sudah dua hari yang lalu. Kepala dinasmu yang tak ada di tempat. Bagaimana aku mau tulis komentar beliau kalau beliau saja tidak kuwawancara," ujar Yoke dengan nafas terengah-engah, setelah baru naik sejumlah anak tangga menuju ke hadapanku di ruang lobi Kantor Dinas PU.

"Ya. Tapi kamu kan seharusnya bisa menelepon beliau. Itu berita penting. Kamu harusnya ada upaya konfirmasi lewat telepon jika tak bisa bertemu beliau," jawabku dengan sedikit tegas, mencoba mencari kesalahan Yoke.

Aku tahu, Kepala dinasku juga salah. Sebab, itu banjir bisa tercipta juga karena ulahnya yang membangun proyek tak berdasarkan skala prioritas.

"Yasudah, Yoke. Kamu masuk saja dulu ke ruangan kepala dinas. Beliau sudah menunggu dari tadi pagi. Aku ini yang jadi kambing hitam dimarah-marah beliau akibat beritamu yang nakal itu"

~~~

Sampai sekira 1 jam, akhirnya Yoke keluar dari ruang Pak Karismo.

"Kamu lama juga ya? Dapat ceramah apa saja?"

"Ya, marahnya sebentar saja. Aku kan pintar menjilat. Beliau sudah kasih klarifikasi tentang sikap pemerintah terkait banjir. Malah aku ujung-ujungnya dikasih uang bensin"

"Enak banget ya jadi wartawan. Beritamu sudah bikin orang satu kantor dimarahi kepala dinas, terus kamu malah dapat uang bensin. Kamp**t"

"Iya, tapi jadinya aku diminta beliau juga untuk menghubungi Pak Wali Kota Safari Yaang. Kami kira enak apa nelpon orang di luar negeri? Mahal biayanya!"

"Ya, itu kan tanggung jawabmu sebagai pembuat berita. Kamu sudah bikin resah kami, jadi ya tanggung jawab"

"Tapi aku minta tolong kamu ya, Suar. Bantu aku menghubungi beliau. Aku tahu, kamu ada hubungan keluarga dengan Pak Yaang, jadi telpon dari kamu pasti langsung diangkat"

Yoke melempar tatapan sinis. Kusambut dengan membuang muka.

"Ayolah Suar. Bantu aku. Please.."

Aku melangkah pergi menjauh. Yoke mengejarku dengan langkah yang lebih cepat.

Hufffth..

"Oke. Aku bantu kamu. Tapi kali ini saja"

//////Bersambung\\\\\

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Mencoba Sensasi "Krenyes" Ayam Tulang Lunak Hayam Wuruk

YOGYAKARTA - Rumah makan yang satu ini sangat pas dengan lidah Indonesia. Sajian dengan ciri khas ayam presto, cukup bisa membuat lidah bergoyang. Tulang ayam renyah, mudah digigit. Ketika masuk perut, seperti tak memakan tulang. Ya, itu memang hal umum di Indonesia, namun tetap selalu menarik. Kalimat "bukan ayam goreng biasa" di depan resto bisa memanggilmu Letak rumah makan ini mudah dijumpai di Sleman,  Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY). Untuk kali ini, saya mengunjunginya di Mal Amplas, Sleman, Rabu (27/6).  Keluarga saya (kali ini bersama istri, dua mertua, ipar, dan dua keponakan) memang suka jajan makan di luar. Rekomendasi kuliner dari mereka, terlebih bila di Jogja, selalu bisa dipercaya. Nasi ayam presto Nasi ayam presto yang saya makan memang enak dan langsung hancur krenyesss di mulut. Tapi, rasa asinnya lebih banyak ketimbang manis ayam, cocok untuk penderita hipertensi. Beberapa menu unggulan lainnya yaitu, ayam presto telur asin, gurame tulang terbang...

Makan dan Jalan di Luar Kota

Makan-makan, jalan-jalan.. . Dulu setiap aku sambang ke Samarinda selalu ada rasa khawatir. "Takut diliat orang kantor," ujarku kepada seorang kawan. Itu alasan kenapa aku setiap jalan ke mal di Samarinda selalu pake kaca mata dan topi. Biar aku tersamarkan. Biar dianggap gak bolos dari tanggung jawab kerja di Kota Tambang. Sedemikian itu loh menjaga prinsip dalam bekerja. Ckck.. Begitu juga yang dilakukan kawan2 yg bertugas di Biro. Baik di lingkungan internal maupun eksternal. Semua kontributor itu punya keresahan yang sama. Percayalah. Sekarang, saat mengupload foto ini, hatiku sempat resah. Maklum, kebiasaan menjaga image. Tapi aku langsung tersadar : oh iya ya Aku kan gak di situ lagi.. Saya yang terkena arus migrasi ini, memiliki rasa bahagia ketika bisa mengupload foto di mal tanpa ada rasa bersalah.. Haha.. Sekian lah dulu.. Salam Iduladha + HUT RI 74